Teruntuk yang saat ini sedang berjuang
Didedikasikan untuk manusia yang saat ini sedang berjuang.
Dari aku, manusia yang juga berusaha untuk bangkit.
Bismillahirahmanirrahim, setelah beberapa waktu saya rehat akhirnya saya memberanikan diri untuk menulis di blog ini, tetapi bukan ditujukan untuk si Tuan yang keberadaannya kini tidak saya ketahui.
Tulisan ini, saya tujukan untuk si para pejuang hidup. Yang sempat terlintas di otak dan bertanya "Sebenarnya untuk apa kita hidup?" ya, jujur, saya pernah bertanya hal itu kepada Abi saya dengan mata yang sembab, pikiran yang kacau, dan berniat untuk mengakhiri hidup.
Untuk kamu, siapapun itu, saya tahu bukan saya aja yang merasakan hal berat ini, hidup memang berat, kawan. Ia tidak akan melemah untukmu, maka dari itu ada dua pilihan untuk manusia seperti kita. Menjadi lebih kuat atau mati.
Saya pernah berada di lingkaran setan yang saya sendiri tidak tahu dimana letak jalan keluarnya. Menangis meronta ingin lepas dan ketakutan, merasa sendirian, dan yang ada dipikiran saya saat itu hanyalah "Saya ingin mati aja"
Saya menangis, berteriak layaknya orang gila, sakit sekali. Semuanya gelap, saya mulai hidup di dalam kesedihan ini, berlarut-larut meratapi apa yang sudah terjadi, depresi perlahan menggerogoti diri saya. Saya tidak bisa melepaskan itu, berulang kali saya berusaha untuk bangkit tapi nyatanya gagal, semakin hari, semakin terpuruk, Kalimat "Mengakhiri" itu mudah "Mengakhirinyalah" yang sulit. Dan kemarin, saya hidup didalam kesulitan itu.
Like a Joker said, "The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don't."
Tetapi... ada yang lebih menyakitkan lebih dari itu... Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, Ibu, menangis melihat keadaan saya yang semakin memburuk. Hati saya teriris, saya merasa gagal. saya gagal membahagiakan Ibu. Ibu bilang "Ibu sayang kamu, nak. Kamu bisa ya, Ibu aja bisa dan Ibu yakin kamu juga bisa, jadi kamu harus percaya dengan diri kamu sendiri ya?"
Apa kau tahu rasanya hidup didalam diri yang ingin tetap hidup tetapi otak yang meronta meminta ingin mati?
Jika kalian memiliki teman yang sedang terpuruk atau depresi, saya mohon, rangkul dia, peluk dia dan katakan "Semua akan baik-baik aja." Jujur, kawan, hanya itu yang kami butuhkan. Bukan celaan dan cacian yang mengatakan bahwa kami adalah seseorang yang kurang iman.
Untuk manusia yang merasakan sulitnya hidup. Bertahanlah selama satu hari, satu hari lagi, esok harinya, satu hari lagi esok lusa, dan begitu seterusnya, Bertahanlah satu hari untuk setiap hari.
Terkadang, untuk menjadi dewasa itu menyulitkan. Tidak apa-apa jika kamu merasa sedih, silahkan menangis, meronta kesakitan, memohon agar Tuhan berbaik hati meringankan beban di pundakmu, mengeluh, silahkan lakukan itu. Tidak apa-apa jika kita merasa tidak baik-baik saja, itu wajar, manusiawi. Tetapi, berjanjilah padaku dan pada dirimu sendiri, bahwa kamu tidak boleh menyerah, kamu tidak boleh berputus asa, tetaplah melangkah meski rasanya sulit dan dunia tidak berpihak kepadamu. Kamu hebat sudah bertahan hingga detik ini, ada banyak orang disekitar kamu yang sayang dengan kamu, kalaupun kamu bilang tidak ada, setidaknya ada satu orang yang masih dan akan tetap terus ada didekat kamu, dan itu diri kamu sendiri, kawan. Berterimakasihlah kepada dirimu sendiri, cintai dirimu sendiri, karena tanpa diri kamu sendiri, kamu tidak akan mampu menanggung semua ini.
Salam cinta dari seorang perempuan yang saat ini juga sedang berjuang.
Bonus foto Ibu dan Adik perempuan saya.
Salam literasi!
Kota Jambi, 3 maret 2020.
Tertanda
Jingga.

Kereeeeeennnnnn
BalasHapusHaii, thankyou ya♡
HapusHmm..komen kemaren g muncul ne..Jingga..menulislah..krn dg menulis, kamu dpt mencurahkan tentang apa pun, yang kamu pikirkan, rasakan, alami, inginkan bahkan fantasimu dan entah apa pun dgn kegiatan..i can't wait for ur stories, dear..
BalasHapusThankyouuu maam♡♥
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus