Alter Ego
LAGI-lagi gadis itu tertegun mendengar perkataan yang dilontarkan oleh pria dihadapannya saat ini.
"Kalau kamu masih seperti ini, lebih baik kita putus."
Gadis itu terdiam, tak mampu berkata-kata lagi.
"Jujur, aku capek. Aku capek dengan kelakuan kamu yang kaya gini. Kamu pahamkan maksudku?" Ujar pria itu mengeluarkan kekesalannya.
Ia mendongakkan kepalanya, menatap pria itu dengan mata yang bergelinang air. "Ma.. maaf, aku tau aku berlebihan. Sekiranya kamu lelah, tinggalkan saja aku."
"Jingga..-
"Aku hanya khawatir, rasa takut itu terus saja menggerutu di kepalaku. Aku khawatir kamu akan berpaling dari aku, aku khawatir kamu pergi, Dirga. Aku berusaha mengontrol agar tidak terlalu posesif kepadamu, tapi aku gak bisa. Aku kehilangan diriku." Jingga menundukkan kepalanya, mengusap kasar air matanya dan kemudian mendongak kembali menatap Dirga yang kini melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku gak mau ngejalin hubungan dengan banyak ketakutan. Aku maklumi jika kamu cemburu atau khawatir kepadaku, tapi tolong pahami juga diriku, Jingga. Aku ingin kamu menjadi rumah yang nyaman bagiku, saat aku lelah dan letih karena pekerjaanku, aku bisa pulang dengan nyaman tanpa harus diintrogasi seperti penjahat. Percayalah, aku gak akan mendua, aku berusaha untuk setia, kamu hanya perlu percaya dan yakin. Apa kamu bisa?"
Jingga membungkam, ia menyadari kesalahannya yang terlalu posesif terhadap Dirga. Sisi lain dari Jingga yang baru Dirga ketahui adalah Jingga benar-benar menjadi gadis posesif dan pencemburu.
"Baiklah, maafkan aku. Beri aku kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki ini semua." Ujar Jingga kemudian memeluk erat Dirga.
"As u wish princess, semua masih bisa diperbaiki. Kita akan baik-baik saja."
Komentar
Posting Komentar